Ilmu dan Kemiskinan itu Tidak Dapat Diwarisi

Februari 28, 2017 oleh : superadmin-ipacc

Di kalangan masyarakat banyak yang menganggap bahwa suatu ilmu dan kepemilikan harta itu dapat diwarisi dari orang tua. Banyak masyarakat yang menganggap apabila orang tua pintar atau miskin, maka anaknya akan menjadi sama. Namun pada hakikatnya hal tersebut tidaklah benar.

Dosen Universiti Kebangsaan Malaysia, Dr. Mohd Fairuz, dalam Kuliah Umum International Program of Accounting (IPAcc) UMY, menyebutkan bahwa usaha seseoranglah yang menentukan nasibnya. Dalam agenda yang dilaksanakan di Amphiteater Pascasarjana UMY lt. 4, Fairuz memotivasi mahasiswa Akuntansi untuk lebih positif dan bersemangat dalam menuntut ilmu. Ia juga menceritakan perjuangannya saat masih muda.

“Saya dulu berasal dari keluarga yang tidak mampu dan tinggal bersama nenek saya. Nenek saya selalu menganggap kalau saya tidak akan memiliki masa depan. Tetapi semasa high school (SMA), satu kelas total ada 49 orang terdiri atas 46 keturunan China dan 3 orang Malay. Kemudian 2 orang Malay keluar dan hanya saya yang ada, dan saya berhasil menjadi murid yang paling cemerlang di kelas saya,” ungkap Fairuz.

Namun demikian, kepandaiannya, diceritakan Fairuz, tidak mampu ia lanjutkan pada saat kuliah mengambil program studi akuntansi. Ia mengaku amat sulit saat awal mempelajari ilmu akuntansi. “Namun meskipun demikian saya mau terus berusaha dan berhasil mendapatkan GPA (IPK) 3.9. Pada saat saya melanjutkan studi S2 di Birmingham saya juga awalnya mengalami kesulitan dalam bahasa. Tetapi saya terus berusaha bergaul dengan orang asing sehingga dapat mengasah bahasa saya. Bila saya melawak dan mereka tertawa, berarti mereka mampu menangkap pesan yang saya sampaikan,” tutur Fairuz.

Fairuz menyimpulkan bahwa kepandaian itu tidak dapat diwarisi. Bila suatu waktu seseorang pandai, kemudian ia tidak melanjutkan kegigihannya, maka kepandaiannya tidak akan terus berlanjut. Begitu pula dengan kepemilikan harta. Ia mencontohkan bahwa dirinya berasal dari keluarga miskin dan dahulu neneknya tidak pernah berharap tinggi padanya. Namun ia membuktikan dengan usahanya bahwa ia mampu menjadi seorang yang berprestasi. Itulah sebabnya kemiskinan tidak dapat diwarisi.

“Oleh karenanya bila ingin sukses kita harus melakukan hal-hal berikut ini. Pertama bersyukur dengan keadaan sekarang, terutama bila masih memiliki orang tua. Karena di luar sana masih banyak orang yang kurang beruntung seperti saya. Kedua adalah kemiskinan itu bukan untuk diwarisi dan masih dapat diubah terutama dengan pendidikan. Oleh karenanya kita harus giat dalam menuntut ilmu. Terakhir, jadilah suatu bangsa yang memiliki jati diri tinggi sehingga kita mampu bersaing dengan masyarakat internasional dan di berbagai penjuru negeri,” tutup Fairuz. (deans)

 

Sumber : UMY

Facebook Comments